
Sebelum membahas sejarah Balubur Limbangan kita harus tahu terlebih dahulu bupati dari masa ke masa selama Limbangan menjadi kabupaten .
Daftar Bupati Balubur Limbangan hingga terbentuknya Kabupaten Garut
Berikut adalah Daftar Bupati Limbangan hingga terbentuknya kabupaten Garut .
- Catatan
- ^ Bernama kabupaten Limbangan
- ^ Berubah nama menjadi Kabupaten Garut pada masa jabatan R.A.A. Wiratanudatar VII pada tahun 1913
- ^ Diangkat menjadi Bupati Bandung
- ^ Diturunkan dari jabatan oleh pemerintah pusat karena kesangsian gelar kerajaan
- ^ Menjayakan Garut sebagai Kota Intan dengan diberi penghargaan oleh presiden.[1]
- ^ Berhenti di akhir masa jabatan karena sakit.[2]
- ^ Bertukar jabatan dengan Bupati Ciamis, Momon Gandasasmita.[2]
- ^ Pada tahun 2007, ia dinonaktifkan karena terlibat kasus korupsi yang divonis pada tahun 2009
- ^ Pelaksana tugas bupati
- ^ Diberhentikan karena kasus pernikahan kilat dengan Fani Oktora
- ^ Sebelumnya menjabat wakil bupati, kemudian diangkat menjadi penjabat bupati setelah Aceng Fikri dimakzulkan. Ia dilantik pada tanggal 4 April 2013
| o | Bupati | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Prd. | Wakil Bupati | Ket. | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| R.A.A Adiwijaya | [ket. 1] | |||||||
| R.A.A. Kusumadinata | ||||||||
| Tumenggung Jaya Diningrat | ||||||||
| Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII | ||||||||
| R.A.A. Soeria Kartalegawa | [ket. 2] | |||||||
| R.A.A. Muh. Musa Suria Kertalegawa | ||||||||
| R. Tumenggung Endung Suriaputra | [ket. 3] | |||||||
| R. Kalih Wiraatmadja | ||||||||
| R. Tumenggung Agus Padmanagara | [ket. 4] | |||||||
| R. Tumenggung Kartahudaya | ||||||||
| R. Moh. Sabri Kartasomantri | ||||||||
| R. Moh. Noh Kartanegara | ||||||||
| R. Gahara Widjaja Suria | [ket. 5] | |||||||
| Letkol Akil Ahyar Mansyur | ||||||||
| R.M. Bob Yacob Ishak | [ket. 6] | |||||||
| Drs. R. Moh. Syamsudin | ||||||||
| Hasan Wirahadikusumah | (1973) | |||||||
| Letkol Iman Sulaeman | (1978) | |||||||
| Letkol Kav Taufik Hidayat | (1983) | [ket. 7] | ||||||
| Momon Gandasasmita | (1988) | |||||||
| Toharudin Gani | (1993) | |||||||
| Dede Satibi | (1999) | |||||||
| Agus Supriadi | (2004) | [ket. 8] | ||||||
| Memo Hermawan | [ket. 9] | |||||||
| Aceng Fikri | (2009) | (2009—11) | [ket. 10] | |||||
(2011—13) | ||||||||
| Agus Hamdani | [ket. 11] | |||||||
| Rudi Gunawan | (2014) | |||||||
Dikutip dari wikipedia ,Balubur Limbangan adalah nama
sebuah kecamatan di Kabupaten Garut yang sekian lama dijadikan ibukota
kabupaten sebelum beralih ke Garut.
Seperti tercatat dalam sejarah, Limbangan awalnya bagian
dari wilayah kerajaan Sunda. Pada saat itu namanya adalah Rumenggong (berasal
dari kata rumenggang yang dalam bahasa Sunda artinya renggang atau jauh, karena
berada di antara Galuh dan Sunda), dan penguasanya dikenal sebagai Sunan
Rumenggong. Setelah kerajaan Sunda runtuh, wilayah ini sempat menjadi wilayah
bawahan Sumedang Larang.
Pada tanggal 24 Maret 1706, Limbangan yang awalnya hanya sebuah distrik di bawah
Kabupaten Sumedang oleh VOC statusnya dikembalikan menjadi kabupaten yang
mandiri dengan Rangga Mertasinga sebagai bupatinya. Sampai pada tanggal 22
Maret 1811 Gubernur Jenderal Daendels membubarkan Kabupaten Limbangan karena
alasan-alasan ekonomis. Namun pada tanggal 16 Februari 1813, Gubernur Jenderal
Raffles mengembalikan status Limbangan menjadi kabupaten.
di jaman lampau
Balubur Limbangan mengalami zaman keemasan yang gilang gemilang, subur
makmur,aman dan tentram: maka Balubur Limbangan menjadi catatan para sejarahwan
dan tidak mudah dilupakan orang, karena kecakapan pemerintahnya, dapat
menjalankan,memperhatikan keseimbangan disegala bidang dan dapat mengikuti
perkembangan syiar Islam yang dilakukan Pemerintahan Cirebon pada saat itu ,
Balubur Limbangan dikenal dengan wilayah yang mempunyai daya kekuatan batin
tinggi karena banyaknya ulama yang
berkualitas.
Istilah Balubur, seperti
diterangkan dalam Ensiklopedi Kebudayaan Sunda, merujuk pada daerah pemukiman
para penguasa kabupaten pada jaman dulu. Semacam daerah istimewa yang
penghuninya terdiri dari para menak dan pejabat pemerintah lainnya. Balubur
Limbangan berarti daerah istimewa tempat para penguasa Kabupaten Limbangan
bertempat tinggal,
Nama Limbangan
berasal dari kata ”imbangan”
yang berarti memiliki imbangan/ mengimbangi dengan Cirebon yang sama sama memiliki kekuatan batin, pada abad
dimana islam sedang pesatnya
mengalir kesetiap pelosok tanah air Indonesia, Limbangan dipimpin oleh seorang Bupati sebagai wakil dari Syarif
Hidayatullah ( 1552-1570 ). Awalnya pemegang kekuasaan Limbangan adalah Dalem Prabu Liman Sendjaya cucu dari Prabu
Siliwangi dan anak dari Prabu Lajakusumah. Prabu Liman Sendjaya digantikan oleh anaknya yang bernama Raden Widjajakusumah I yang
lebih terkenal dengan julukan Sunan Dalem Cipancar. Adapun sejarahnya sebagai
berikut :
( Raden
Widjajakusumah ke-1 ini adalah Bupati Limbangan yang dikenal dengan Bupati
Galih Pakuan sangat termasyhur akan kebijaksanaannya dalam memimpin, tentang
kecakapan mengatur pemerintahan, peribahasa Sunda mengatakan Sepi Paling Suwung
Rampog, Hurip Gusti Waras Abdi (aman, tentram dan damai).
Bupati Widjajakusumah
sebagai pemuka tabir bahwa Balubur Limbangan mempunyai kekuatan batin. Syahdan
Kepala daerah Cirebon, Syarif Hidayat. Pada suatu saat beliau memerintahkan
kepada semua bupati untuk menghadiri rapat bupati di Cirebon, seluruh bupati
diwajibkan hadir tepat waktu, bila ada yang melalaikan perintah Syarif Hidayat,
maka akan dikenakan hukuman mati.
Upaya tersebut
merupakan penanaman disiplin bagi aparatur negara pada waktu itu. Maksud dari
yang terpenting dari kumpulan itu, guna menjelaskan tentang keunggulan ajaran
agama Islam. Pada saat itu ditegaskan bahwa sebagai penganut Islam, harus
berjanji untuk menjalankan segala perintah agama dan tidak akan bertentangan
dengan hukum-hukum serta menurut perintah Tuhan.
Perjalanan dari
Limbangan menuju Cirebon saat itu sangat sulit, oleh karena itu Bupati Galihpakuan, Raden Widjajakusumah
datang terlambat pada acara rapat tersebut. Sesampainya di Pendopo, Bupati
Galihpakuan ditangkap oleh para algojo yang bertugas, dan akan dibunuh dengan
mempergunakan senjata miliknya, namun ketika keris ditusukkan pada tubuh Bupati
Raden Widjajakusumah, tiba-tiba semua algojo itu terjatuh lemas ke tanah.
Seluruh isi Pendopo
menjadi panik, hingga rapat terganggu dan dihentikan untuk sementara waktu,
Syarif Hidayat keluar dan menjumpai para algojo, beliau menanyakan sebab-sebab
kejadian ini, maka para algojo menjelaskan, bahwa saat menjalankan tugas dari
beliau untuk menghukum Bupati Galihpakuan yang datang terlambat, mereka tidak
berdaya. Syarif Hidayat menoleh kepada Bupati Galihpakuan, maka mengertilah
bahwa bupati yang bersalah itu seharusnya dihukum dengan tidak mengenal
pangkat, teman atau saudara.
Bupati Galih pakuan
dengan iklas mempersembahkan kerisnya kepada Syarif Hidayat, guna menjalani hukuman. Setelah keris berada
ditangan Syarif Hidayat, maka terlihatlah lapadz Quran ÒLaa Ikrooha FiddiinÓ,
yang terukir pada keris tersebut, maka Syarif Hidayat memahami, bahwa orang
yang diizinkan memakai keris tersebut adalah orang yang sangat berjasa, karena
keris tersebut adalah senjata pusaka dari Prabu
Kiansantang Pendekar Agama Islam. Keris itu dapat dipandang sebagai bintang
perjuangan dalam menyebarkan agama Islam.

Akhirnya Syarif
Hidayat tidak jadi membunuh Bupati Galihpakuan dan mengumumkan kepada semua
bupati dalam rapat, bahwa Bupati Galihpakuan tidak jadi dibunuhnya karena
beliau merupakan orang yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam,
terbukti dengan memilikinya Senjata Pusaka. Dijelaskan pula oleh beliau bahwa
keterlambatannya bukan berarti melalaikan undangannya, tetapi karena disebabkan
sulitnya perjalanan. Diumumkan pula, bahwa sejak hari ini nama Bupati
Galihpakuan diganti dengan nama Bupati Limbangan yang berarti bahwa Galihpakuan
telah mengimbangi Cirebon dalam syiar Islam ).
Seperti tercatat
dalam sejarah, Limbangan yang berada di daerah kawasan Gunung Poronggol
Limbangan sekitar tahun 1415 M awalnya bagian daerah bawahan dari wilayah
kerajaan Sunda atau Kerajaan Besar Pakuan Pajajaran. Namun versi lain
mengatakan bahwa Limbangan sudah menjadi daerah otonom merupakan sebuah
kerajaan kecil bernama Kertarahayu
ketika kerajaan Sunda terbagi dua, yakni menjadi Galuh dan Sunda dan
kadang disebut Rumenggong, rumenggong
(konon berasal dari kata “rumenggang” atau “renggang”, karena berada di antara
Galuh dan Sunda) dan penguasanya dikenal sebagai Sunan Rumenggong yang bernama
asli Jayakusukah/Wijayakusumah (I)/Ratu Rara Inten Rekean Layaran Wangi/Jaya
Permana/Gagak Rancang. Setelah kerajaan Sunda runtuh, wilayah ini sempat
berada di bawah kekuasaan daerah lain, di antaranya sempat menjadi wilayah
bawahan Sumedang Larang.
Berikut rangkuman
silsilah kerajaan dan sejarah kabupaten
balubur limbangan :
A. SUNAN RUMENGGONG
Berdasarkan Sejarah Limbangan, bahwa Sejarah Keluarga
Besar Limbangan ( Garut ) dimulai sejak keberadaan Kerajaan Rumenggong atau
Keprabuan Kerta Rahayu, yang rajanya bernama Prabu Rakean Layaran Wangi atau
Prabu Jayakusumah.
Bila dikaitkan dengan nama Limbangan, Sejarah
Keluarga Besar Limbangan ( Garut ) dimulai sejak Keprabuan Galeuh Pakuan (
pecahan dari Kerajaan/ Keprabuan Rumenggong ) yang dirubah namanya,
menjadi Kabupaten Limbangan oleh Adipati Limansenjaya atau Prabu Wjayakusumah
atas perintah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon
pada tahun 1525 M.
Menurut Sajarah Silsilah Asal Usul Limbangan,
bahwa Sunan Rumenggong adalah masih keturunan Prabu Jaya Dewata ( Prabu
Siliwangi ) dari Nyi Putri Inten Dewata ( putra Dalem Pasehan
Timbanganten ) dan masih saudara dari Sunan Ranggalawe ( Ratu Timbanganten ).
Sunan Rumenggong mempunyai 3 putra, yaitu :
1. Prabu Mundingwangi atau
Sunan Cisorok
2. Nyi Putri Buniwangi/ Nyi Rambut
Kasih Lh. + 1470
3. Dalem emas ( dari isteri
keduanya ).
Nyi Putri Buniwangi atau Nyi Putri Rambut
Kasih menikah dengan Prabu Layakusumah putra Sri Baduga Maharaja dari Ratu
Anten. Prabu Layakusumah adalah raja di Keprabuan Pakuan Raharja (
Cicurug Sukabumi ) sebagai vazal Kerajaan Pakuan Pajajaran ( Bogor ).
Pada sebagian rundayan silsilah Limbangan, Nyi Rambut Kasih sering
dirancukan dengan Nyi Ambet Kasih putra Ki Gedeng Sindangkasih ( Cirebon ). Nyi
Ambet Kasih adalah isteri dan saudara sepupu dari Prabu Jaya Dewata, yang saat
itu masih bernama Raden Pamanahrasa putra Prabu Dewa Niskala. Prabu Dewa
Niskala saat itu masih sebagai putra mahkota Kerajaan Sunda Galuh, yang rajanya
adalah Maharaja Linggawastu Kancana ( 1371 – 1475 M ) yang berkedudukan
di Kawali ( Ciamis ).
Di daerah Sindangkasih Majalengka, adapula
seorang putri yang menjadi Ratu Sindangkasih benama Nyi Putri Rambut Kasih (
petilasannya “Pasir Lenggik “di daerah Sindangkasih Majalengka ). Menurut
sesepuh di daerah Sindangkasih ( Majalengka ), dia itu adalah putra Prabu
Jaya Dewata, yang ketika agama Islam mulai memasuki daerah Majalengka ,
dia menolak untuk menganut agama Islam. Ratu Sindangkasih bagi
masyarakat di Majalengka, terkenal dalam cerita legenda “
Majalengka “.
Menurut riwayat lain, disebutkan bahwa
bahwa Sunan Rumenggong dari isteri pertama tidak mempunyai putra, tetapi
memelihara Putri Ambetkasih/Nyi Putri Buniwangi putra Sunan Patinggi Buniwangi.
Dari isteri keduanya Sunan Rumenggong
dikaruniai 6 orang putra,yaitu
1. Dalem
Mangunharja ( Sunan Galunggung )
1.1.Dalem Singaharja
1.1.1. Nagaparana
2. Dalem
Manggunrembung/Prabu Mundingwangi ( Sunan Cisorok )
3. Dalem
Mangunreksa ( Sunan Manglayang )
4. Dalem
Manguntaruna ( Purbalingga Jawa Tengah )
5. Dalem
Emas ( Sunan Bunikasih )
6. Dalem
Mangunkusumah ( Lemah putih Depok )
Menurut riwayat, bahwa pada + tahun 1600 M
Nagaparana pernah mengadakan pemberontakan, yang menyebabkan tewasnya
Tumenggung Wangsanagara (Sunan Kareseda ) putra Prabu Wijayakusumah (
Sunan Cipancar ) di suatu tempat yang sekarang disebut Ragahiyang di
Gunung Sadakeling. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Dalem Santowaan cucu
Prabu Mundingwangi ( Dalem Cibolerang Wanaraja ).
Setelah wafat Sunan Rumenggong dimakamkan di
Kampung Poronggol ( sekarang termasuk Desa Ciwangi Kecamatan Limbangan ).
Sedangkan saudaranya, Sunan Patinggi makamnya ada di Kampung Nangkujajar
Limbangan.
B. PRABU MUNDINGWANGI
Nama beliau pun sering dirancukan dengan Prabu Mundingwangi atau Prabu
Munding Surya Ageung ( Raja Maja ) putra Prabu Jaya Dewata, saudaranya
Ratu Sindangkasih, sebagaimana telah disebutkan di atas.
Kembali kepada Prabu Mundingwangi putra Sunan Rumenggong, bahwa beliau
menggantikan ayahnya menjadi Prabu di Keprabuan Rumenggong atau Kerta Rahayu.
Menurut Rd. Soemarna, ada kemungkinan beliau
memindahkan pusat pemerintahannya dari Kertarahayu ke Dayeuhmanggung
(Desa Selaawi ) dan menikahi putri Sunan Dayeuhmanggung saudaranya Sunan Gordah
dan mempunyai putra :
· Prabu
Salalangu Layakusumah
Setelah wafat Prabu Mundingwangi dimakamkan
di daerah Cisorok – Selaawi dan terkenal dengan sebutan Sunan Cisorok.
Kerajaan Rumenggong dilanjutkan oleh Prabu Salalangu Layakusumah.
C. PRABU SALALANGU LAYAKUSUMAH
Lh. + 1485 M
Sepeninggal Prabu Mundingwangi ( Sunan Cisorok ), Keprabuan Kerta Rahayu
dilanjutkan oleh putranya , yaitu Prabu Salalangu Layakusumah.
Menurut Silsilah menak-menak Limbangan, beliau adalah kakek dari garis
ibu Prabu Wijayakusumah atau Sunan Cipancar.
Setelah Prabu Salalangu Layakusumah wafat diganti oleh putranya Dalem Santowaan
atau disebut juga Santowaan Nusakerta.
D. DALEM SANTOWAAN
Lh. + 1505 M
Dalem Santowaan menggantikan Prabu Salalangu Layakusumah, tetapi tidak di
Keprabuan Kerta Rahayu, karena wilayah Keprabuan Kerta Rahayu telah dibagi tiga
wilayah, yaitu Kaprabuan Galeuh Pakuan, Kaprabuan Sudalarang dan Kadaleman
Cibolerang Wanaraja.
Kaprabuan Galeuh Pakuan, dipimpin oleh Dalem
Adipati Limansenjaya atau Prabu Wijayakusumah ( Sunan Cipancar ), yang
menggantikan ayahnya Prabu Hande Limansenjaya. Wilayahnya meliputi yang
sekarang termasuk Kecamatan Limbangan, Cibiuk, Leuwigoong, Selaawi, Malangbong,
Karangtengah, Cibatu , Wanaraja dan Karangpawitan.
Kaprabuan Sudalarang, dipimpin oleh Dalem
Singadipati I, yang menggantikan ayahnya Prabu Wastu Dewa. Wilayahnya meliputi
yang sekarang termasuk Kecamatan Sukawening dan Karangtengah Kab. Garut.
Dan Dalem Santowaan memimpin Kadaleman
Cibolerang Wanaraja. Pusat Kadalemannya, adalah di suatu tempat antara
Cibolerang dan Bojongsari ( arah sebelah Barat Daya Kp.Cinunuk Hilir Wanaraja
). Wilayah Kadaleman Cibolerang meliputi yang sekarang termasuk wilayah
Cipicung (Banyuresmi), Cinunuk ( Wanaraja ), Cimurah, Calingcing dan Suci
Karangpawitan.
Ada kemungkinan makam yang berada
disana, adalah makam Dalem Santowaan dan isterinya. Makam tersebut sampai
sekarang tidak ada yang memelihara atau mengurusnya.
Menurut Sajarah Limbangan, Dalem
Santowaan mempunyai 5 orang putra, yaitu :
1 ). Dalem Nayawangsa
2 ). Dalem Wangsareja
3 ). Kyai Gede Papandak (
Distrik Wanaraja )
4 ). Kyai Gede Dadap
Cangkring ( Distrik Wanaraja )
5 ). Kyai Nawu
D.1. DALEM NAYAWANGSA
Dalem Nayawangsa adalah Dalem di daerah Cipacing
Wanakerta, yang sekarang termasuk wilayah Kec. Cibatu Kab. Garut.
Dalem Nayawangsa diangkat sebagai Bupati Limbangan yang
pertama ( 1660 – 1678 M ) oleh Pangeran Rangga Gempol III Bupati Sumedang
( 1656 – 1705 ). Setelah wafat pada pada tahun 1678 M, beliau digantikan oleh
Dalem Mertasinga (1678 – 1726 ) putra Dalem Adipati Rangga Megatsari.
Kabupaten Limbangan, oleh karena saat itu penduduknya hanya 200 keluarga,
maka berdasarkan Keputusan VOC tanggal 15 Nopember 1684 statusnya menjadi
Distrik ( Kawadanaan ) Kabupaten Sumedang. Pada tahun 1705 statusnya
dikembalikan menjadi Kabupaten di bawah Kesultanan Cirebon.
Dalem Nayawangsa menikah dengan Ny Rd.
Ayu Kuningan putra Dalem Sanggadipati II ( Ragadiyem ) cucu Prabu Wastu
Dewa ( Keprabuan Sudalarang ).
Dalem Nayawangsa mempunyai dua orang putra, yaitu ;
1. Dalem
Kudawarsa
Dalem Kudawarsa menikah dengan saudara sepupunya
Nyi Tanurang Manik menurunkan 2 orang putra, yaitu :
1 ). Dalem
Wangsadita I ( Rangga Limbangan )
Dalem Wangsadita I menggantikan Dalem Mertasinga, sebagai Bupati Limbangan 3
(1726 -1740 M ). Beliaulah yang menurunkan para Bupati Limbangan, Sumedang
dan seuweu siwinya. Seuweu siwinya akan dijelaskan di belakang.
2 ). Rd.
Candrakusumah.
Rd. Candrakusumah riwayatnya belum dketemukan, tetapi dalam Sajarah Menak -
menak Limbangan, beliau menurunkan putra, cucu dan seterusnya sampai
Rd.Padmareja ( Camat Leuwidadap Kab. Bandung ). Seuweu siwi
Rd.Padmareja tidak diketahui.
2. Dalem Wangsadireja.
Dari cucunya Rd.
Abubakar putra Rd.Muh.Rajak, menurunkan cicit/buyut, yaitu :
1 ). Kyai
Rd. Ali Mujaham
2 ).
Kyai Rd.Ali Mujahim
3 ). Kyai
Rd. Muh. Arif
4 ). Kyai
Rd.Arsi
Tidak ada data riwayat dan rundayan seuweu swinya.
D.2. DALEM WANGSARAJA
Lh. + 1525 M
Dalem Wangsaraja adalah putra Dalem Santowaan, yang menurut Sajarah Limbangan
menjadi Dalem Banjaran ( Wanaraja ). Beliau adalah menantu dari Adipati
Suriakusumah Rangga Megatsari ( cicit dari Sunan Cipancar ), karena menikah
dengan putranya yang bernama Nyi Rd. Tanurang Rucitawangi.
Ketika Rangga Megatsari wafat ( 1650 M ), yang menggantikannya sebagai Bupati
Limbangan adalah putranya Dalem Wangsakusumah I. Karena putra Dalem
Wangsakusumah, yaitu Rd. Bedangga Kusumah masih kecil,maka atas perintah
Sultan Mataram Dalem Wangsareja menggantikannya sebagai Bupati
Limbangan.
Dari perkawinannya dengan Nyi Rd. Tanurang Rucitawangi, Dalem Wangsaraja
dikaruniai dua orang putra, yaitu : di dapat dari sumber limbangangarut.com
1. Nyi Rd. Tanurang Manik
Nyi Tanurangmanik menjadi isteri dari Dalem Kudawarsa putra Dalem Nayawangsa,
yang selanjutnya melahirkan 2 orang putra sebagaimana tela disebutkan di
atas.
2. Rd. Rajasuta.
Rd. Rajasuta menjadi menantu Sunan Tangkil
yang menjadi Demang Timbanganten.
Dari Nyi Rd. Ajeng Karaton putra Sunan
Tangkil, Rd. Rajasuta mempunyai 2 orang putra, yaitu :
1. Dalem Rajadiwangsa.
2. Rd. Taruna ( Cikukuk ).
Putra Dalem
Rajadiwangsa, yaitu Rd. Arsadinata I ( Patih Limbangan) menikah dengan Nyi Rd.
Purba Sepuh ( Leuwibolang ) putra Dalem Wangsadita I ( Bupati Limbangan 3, 1726
- 1740 M ), menurunkan 4 orang putra, yaitu :
1 ) . Rd. Rajadinata
I ( Wedana Cileuleuy )
2 ). Rd. Natadireja
3 ). Rd. Arsadinata II
4 ). Nyi Rd. Natijah
1. Rd. Rajadinata I ( Wedana
Cileuleuy )
Salah seorang putra Rd.
Rajadinata I, yatu :
· Nyi Rd. Umu Kulsum
Belau adalah istri dari Kyai Rd. Moh.
Soleh ( Penghulu Malangbong ) putra Rd.Mas Nur Hasan, cucu Rd. Surayuda (
Wedana Malangbong ). Rundayannya akan dijelaskan pada Bagian 4.
2. Rd.Natadireja.
Rd. Natadireja menikah dengan Ny
Rd. Natamantri putra Nyi Rd Kambang cucu Dalem Wangsadita II ( Bupati Limbangan
4).
Putra Rd. Natadreja, diantaranya yaitu
:
1). Nyi Rd. Siti Maliki
Beliau adalah menantu Rd.
Sutabangsa yang nantinya menurunkan tokoh-tokoh terkenal Cibiuk dan Limbangan :
( 1 ). Kyai Rd. Jafar Sidik
( 2 ). Kyai Rd.Fakih Ibrahim
Riwayat dan rundayannya akan dijelaskan pada
Bagian 6.
2). Rd. Arsadireja
Rd. Arsadireja
menikah dengan putra Rd. Wangsayuda ( cicit Dalem Jiwanagara I (
Cinunuk Wanaraja ) putra Tg. Wijayakusumah ( Dalem Sukadanuh ) dan dikarunia
seorang putra, yaitu :
· Nyi Rd. Mariyah
Nyi Rd.
Mariyah selanjutnya menikah dengan Patih Limbangan yang bernama Rd. Rangga
Suriadikusumah putra Rd. Suriadiningrat ( keturunan Dalem Cikundul Cianjur dan
Panjalu ). Menurut silsilah, Rd. Rangga Suriadikusumah putra
Rd. Suriadiningrat adalah saudara sepupu Dalem Adiwijaya I ( Bupati
Limbangan Garut 1813 – 1833 M ) putra Pangeran Kornel (Bupati
Sumedang. 1791 – 1828 M ).
Ny. Rd. St. Mariyah putra Rd. Arsadireja dari
Rd. Rg. Suriadikusumah dikarunia seorang putra, yaitu : Rd. H.
Muhammad Musa .
Rd. H. Muhammad Musa adalah Penghulu
Limbangan atau terkenal dengan sebutan Penghulu Bintang Garut. Riwayat dan
rundayannya akan dijelaskan di belakang.
3. Rd. Arsadinata.
Rd. Arsadinata II menurunkan putra Rd.
Sutamanggala ( Penghulu Malangbong ). Ny. Rd. Komala putra Rd. Sutamanggala
adalah isteri Rd. Surayuda ( Wedana Malangbong 1809 M ) dan mempunyai 2
orang putra, yaitu :
1 ). Rd.Wirayuda
2 ). Ny.Rd.Nata Karaton
Dari
suaminya ( ? ) beliau melahirkan putra :
· KH Rd. Abdul Kohar
Sesepuh PP Cipining Cibunar Malangbong.
Riwayat dan rundayan Rd. Surayuda akan
dijelaskan di belakang.
4. Ny.Rd.Natijah
Adapun Nyi Rd.Natijah menjadi isteri Kyai Rd.
Jaiyyah, cucunya Rd.Jafar Sidik dari putranya Nyi Rd. Ayu Fatimah. Menurut
riwayat dari sesepuh di Malangbong dan Limbangan, bahwa salah seorang putra
Kyai Rd. Jaiyyah adalah :
· Embah Kair
Atas ijin dari ayahnya, beliau pergi
mengembara ke daerah Cimande Bogor dan pernah mengabdikan diri kepada Dalem
Wiratanudatar VI ( Bupati Cianjur ). Diriwayatkan bahwa beliau dan istrinya
adalah pencipta “ jurus Cimande “, yang terkenal di dunia persilatan tatar
Sunda.
D.3. KYAI PANDE GEDE PAPANDAK
Daerah Papandak letaknya di sebelah Timur Laut dari kota
Kecamatan Wanaraja sekarang ( lebih kurang 4 km ). Sekarang termasuk wilayah
Desa Sukamenak Kec. Wanaraja Kab. Garut.
Menurut Sajarah Silsilah Asal Usul Limbangan,
Kyai Pande Gede Papandak mempunyai seorang putra yang bernama :
· Dalem
Wangsayuda
Dalem
Wangsayuda adalah Sekretaris Keraton Mataram ( asal Cilegong Papandak ).
Dalem Wangsayuda
dikaruniai 5 orang putra, yaitu :
1. Rd.
Patrawangsa
2. Rd. Partadiriya
3. Rd. Paranajibja al Ilyas
4. Rd.Natawiria
5. Rd. Wra Sasatero
Seuweu siwinya dapat dilihat pada Buku
Silsilah Rundayan Sunan Rumenggong dan Sunan Cipancar Bagian 2.
D.4. KYAI PANDE GEDE DADAP
CANGKRING.
Mengenai riwayat dan data Silsilah Rundayannya tidak diketahui.
D.5. KYAI NAWU
Adapun putra bungsu Dalem Santowaan, yaitu
Kyai Rd. Nawawi. Menurut riwayat, karena beliau ahli dalam bidang llmu
Nahwu ( cabang ilmu tata bahasa Arab ), maka beliau terkenal dengan
sebutan Kyai Rd.Nawu.
Kyai Rd. Nawu tinggal dan menetap di
daerah Cibeureum Wanaraja, yang sekarang termasuk wilayah Kec. Pangatikan Kab.
Garut.
Kyai Rd.Nawawi ( Kyai Rd.Nawu ) mempunyai
putra yang bernama :
· Kyai Lembang (
Syekh Abdul Jabar )
Beliau adalah Kyai di daerah Cikukuk
Leles ( sekarang termasuk wilayah Kec. Leuwigoong ).
Makam Kyai Lembang ( Syekh Abdul Jabar
) satu kompleks dengan makam cucunya, yaitu Kyai Rd. Jafar
Sidik, berada di sebuah bukit Gunung Haruman di Desa Cipareuan Kec. Cibiuk Kab.
Garut.
Kyai Lembang atau Syekh Abdul Jabar mempunyai
beberapa orang putra, diantaranya :
I. Kyai Rd. Ketib
Beliau adalah seorang Kyai di daerah
Ciceuri ( sekarang temasuk Kec. Kersamanah Kab. Garut ).
Makam Kyai Rd. Ketib putra Kyai Lembang
berada di sebelah Selatan pemakaman Astana Gede di Kampung Pasir Astana Desa
Pasirwaru Kec. Limbangan.
Karena Kyai Rd. Ketib memegang jabatan Khotib
pertama di Limbangan, maka selanjutnya beliau pindah dari daerah Ciceuri
Malangbong (sekarang termasuk wilayah Kec.Kersamanah Kab. Garut ) ke Limbangan
dan seterusnya tinggal dan menetap di Limbangan.
Kyai Rd.Ketib dkaruniai 7 orang
putra,diantaranya :
1. Nyimas Ayu Subah
Nyimas Ayu Syu’bah menikah
dengan Kyai Rd.Mas’ud putra Rd. Arsawiguna ( Patih Limbangan ) dan melahirkan 5
orang putra, diantaranya yaitu :
1 ). Kyai Rd. Jafar
Sidik
2 ).Kyai Rd. Fakih Ibrahim.
Kedua putra Kyai Rd. Mas’ud dengan
Nyimas Ayu Syu’bah ini akan djelaskan pada Bagian 4.
2. Kyai Musta’mil
Berputra satu, yaitu :
· Nyi Rd. Ajeng Kawibun
Menikah dengan saudara sepupunya, yaitu
Kyai Rd. Jafar Shidik putra Kyai Rd.Mas’ud.
3. Kyai Mas Panengah
Berputra beberapa orang,diantaranya :
· Ny. Rd.Pangulu
Cicadas
Menikah dengan
saudara sepupunya, yaitu Kyai Rd.Fakih Ibrahim putra Kyai Rd.Mas’ud.
II. Kyai Rd. Sulaeman ( Banyumas )
Dua diantara beberapa putranya, yaitu :
- Kyai Mas Winata
- Kya Abdullah
F. PRABU WASTU DEWA
Prabu Layakusumah dari perkawinannya dengan
Nyi Putri Buniwangi mempunyai putra kembar, yang sulung namanya Prabu Wastu
Dewa ( sebagai Prabu di Keprabuan Dayeuh Luhur wilayah Cibiuk sekarang ) dan
Prabu Hande Limansenjaya Kusumah ( sebagai Prabu di Keprabuan Galeuh Pakuan
wilayah Limbangan Sekarang ). Selanjutnya Prabu Wastu Dewa menjadi Prabu di
Keprabuan Sudalarang ( daerahnya meliputi yang sekarang termasuk
Kecamatan Sukawening dan Karangtengah ).
Prabu Wastu Dewa mempunyai putra Rd.
Singadipati I di Cinta, dan mempunyai 6 orang putra, yaitu :
1 ). Dalem Mangkubumi ( Wanakerta)
2 ). Dalem Wangsapati (Cinta )
3 ). Dalem Kertawangsa
4 ). Dalem Jaksa ( Ragadiyem )
Cucunya adalah Ny. Rd.Minur yang menikah dengan Dalem
Mertasinga putra Adipati Ranggamegatsari ( Bupati Limbangan 2 1678 – 1726 M ).
5 ). Dalem Lurah ( Ragadiyem )
6 ). Dalem Singadipati II ( Cinta )
Sepeninggal ayahnya, Keprabuan Sudalarang dilanjutkan oleh Dalem Singadipati II
( masuk Islam tahun 1525 M ). Putranya adalah Ny.Rd.Ayu Kuningan
yang menikah dengan Dalem Nayawangsa putra Dalem Santowaan ( Bupati
Limbangan 1 1650 – 1678 M ).
Setelah Dalem Singadipati II ( Prabu Sangga
Adipati II ) putra Rd. Singadipati I, Keprabuan Sudalarang dilanjutkan
oleh Dalem Cakrajaya.
Sampai sekarang penyusun belum menemukan Buku
Standar Silsilah Rundayan dari Prabu Wastu Dewa ( Sudalarang ).
Menurut Rd. Sobarnas, salah seorang cucu
Dalem Singadipati II yang bernama Nyimas Ayu menikah dengan Pangeran
Sacakusumah putra Mas Jolang atau Pangeran Seda ing Krapyak ( Sultan Mataram
1601 – 1613 M ). (Rd. Sobarnas : 26 ).
Ada kemungkinan Rd. Wirantadijaya (
Lurah Desa Cinta Kec. Nangkapait Kab. Garut ), ayah Rd. Muh. Sanusi
Harjadinata, Gubernur Jawa Barat tahun 1952 – 1857 adalah keturunan dari
Ragadiyem.
H. PRABU HANDE LIMANSENJAYA
Sajarah Limbangan meriwayatkan, bahwa beliau adalah saudara kembar dari Prabu
Wastu Dewa. Beliau adalah sebagai penguasa di Keprabuan Galeuh Pakuan. Keraton
Galeuh Pakuan berada di daerah Pasirhuut berdekatan dengan Sungai
Cipancar yang bemuara ke Sungai Cimanuk.
Sesepuh Pondok Pesantren Wates Bapak KH Rd. Aten Muhyiddin telah menceritakan
kepada penyusun, bahwa ayah beliau ( KH Rd. U. Muhyiddn ) dan leluhurnya pernah
mengunjungi daerah bekas Kerajaan Galeuh Pakuan tersebut.
Kang Aan Merdeka Permana dalam Majalah Ujung Galuh menjelaskan, bahwa
Pasirhuut adalah “ lembur nu pinuh ku lalangse “ ( Kampung yang
penuh dengan kabut misteri ), sebab ada dugaan bahwa di bawah tanah daerah
Pasirhuut tersimpan kekayaan peninggalan keraton Galeuh Pakuan.
Menurut berita catatan tradisional, bahwa
Mahkota Binokasih Sanghiyang Pake ( Mahkota Raja yang dibuat Bunisora dan
dipakai oleh Raja-raja Galuh / Sunda dan Pajajaran, mulai dari Prabu
Wastukancana ( 1371-1475) sampai Prabu Ragamulya / Suryakancana/ Prabu
Siliwangi terakhir (1567- 1579 M ), yang seharusnya dibawa ke Prabu
Geusan Ulun di Sumedang larang atas perintah Prabu Siliwang, oleh Jayaperkosa
disembunyikan di salah satu gua tidak jauh dari keraton Galeuh Pakuan di
daerah Pasirhuut Limbangan.
Tetapi versi lain menyebutkan, bahwa
berdasarkan ucapan Prabu Wijayakusumah ( Sunan Cipancar Limbangan ), mahkuta
Binokasih disembunyikannya agak jauh dari Pasirhuut, yaitu di sebelah Barat
makam Prabu Wijayakusumah atau Sunan Cipancar di Limbangan (
Pasir Astana Desa Pasirwaru Limbangan – Peny. ) ( Ujung Galuh 7 : 9 ).
Wallohu’alam.
Menurut Kang Deddy Effendie ( Wakil
Ketua Masyarakat Pariwisata Kab. Garut ) yang diceritakan kepada penulis
beberapa waktu yang lalu, bahwa di daerah Pasirhuut bekas Keraton
Galeuh Pakuan - Limbangan banyak kekayaan Galih Pakuan yang masih ada sampai
dengan sekarang, dan disimpan oleh masyarakat yang mencintai sejarah kuno.
Prabu Hande Limansenjaya, kemungkinan karena
sudah sepuh atau tidak mau berselisih dengan putranya sendiri ( yang sudah
memeluk agama Islam ), akhirnya beliau meninggalkan keraton Galeuh Pakuan di
Pasirhuut dan kemudian menuju ke daerah Wanaraja.
Beliau beserta pengikutnya membuka hutan di
daerah Wanaraja dan dijadikannya pemukiman, yang disebut Panyeredan (
berdekatan dengan kampung Tajur Kidul dan termasuk ke dalam wilayah
Kecamatan Sucinaraja Kab. Garut – Pen. ).
Benda Cagar Budaya sebagai peninggalan
Prabu Hande Limansenjaya, diantaranya batu bekas bertapa dan tanda kebesarannya
seperti lingga
dan alas duduk , masih ada di Pasir Sanghiyang di
kaki bukit gunung Galunggung antara Kampung Tajur dan Cigadog (sekarang
termasuk wilayah Kecamatan Sucinaraja Kab. Garut ).
Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat
datang ke Kampung Galeuh Pakuan Limbangan ( tepi Sungai Cipancar ).
Penulis diantar oleh Bapak Nukri untuk melihat Batu
Pangcalikandi tepi Sungai Cipancar. Menurut Bapak Nukri, bahwa
Batu Pangcalikan tersebut adalah tempat beristirahat Prabu Limansejaya
setelah bersuci di Sungai Cipancar. Jarak Batu Pangcalikan tersebut dari
Sungai Cipancar kurang lebih 5 m dan batu pangcalikan ( yang tersusun seperti
sebuah kursi ) bersandar kepada dinding pematang sawah di atasnya.
Bapak Nukri menceritakan kepada penulis,
bahwa beberapa puluh tahun yang lalu ( pada jaman pemerintahan Presiden Suharto
) ada sebuah batu yang berbentuk gentong dibawa ke Jakarta dan sekarang batu
tersebut digunakan prasasti Gedung PGRI Pusat Jakarta.
Sepeninggal Prabu Hande Limansenjaya,
Keprabuan Galeuh Pakuan diwariskan kepada putranya, yaitu Adipati Limansenjaya
atau Prabu Wikayakusumah yang setelah wafat terkenal dengan sebutan Sunan
Cipancar.
Seuweu swinya akan dijelaskan pada Bagian 2.
I. DALEM EMAS
Dalem Emas atau Sunan Bunikasih rundayan
silsilahnya akan sampai kepada Kyai Rd. Moh. Ashim ( Parakanmuncang ). (
Lihat Bagian 2 Buku Silsilah Rundayan Sunan Rumenggong ).
Menurut sesepuh Kp. Serang Cibiuk, Kyai Rd. Moh. Ashim setelah berguru kepada
Kyai Syek Jafar Sidik ( pada abad 18 M ) tidak pulang ke Parakanmuncang,
tetapi terus menetap di Cibiuk dan menikah dengan Nyi Rd. Ajeng
Kabumen putra Kyai Rd. Zakaria.
Menurut riwayat, bahwa Kyai Rd.Zakaria adalah
putra Embah Dangdeur Cikawao ( Embah Nurmadin putra Maulana Abdullah
keturunan Maulana Hasanudin Banten ). Kyai Rd. Zakaria menikah pula dengan Nyi
Rd. Nalebah cucu Dalem Tegaljati Pasir Uncal, yaitu Dalem Wiraha putra Dalem
Wirayuda (Dalem Cipicung ) ( cucu Tmg. Wangsanagara / Sunan Kareseda ).
Dari Nyi Rd. Ajeng Kabumen putra Kyai Rd.
Zakaria, Kyai Rd. Moh. Ashim menurunkan beberapa orang putra,
diantaranya :
I. NY. RD. ST. KURSIYAH (
Eyang Kunci )
Beliau dahulu tinggal di Cibuntu Cibiuk. Putra-putranya,
yaitu :
1.
Rd.Muh.Saleh
Ayah Rd.Idik ( Pasir Kulit Cibiuk )
2. Ny. Rd. St. Qoribah
Ny. Rd. St. Qoribah menikah dengan saudara
sepupunya, yaitu Kyai Rd. Nur Muhammad putra Ny. Rd.Idah/ Rd. Sinureja. Seuweu
siwinya akan dijelaskan di belakang.
II. EYANG DEMAS
Beliau tinggal di Cibiuk. Putra-putranya diantaranya :
1. Rd. H.
Abdul Manan
Ayah dari Rd. H.Ino, Rd.H. Amin dll
2. Kyai Ahmad Majalli ( Majalaya )
III. NY. RD.IDAH
Ny. Rd. Idah adalah menantu Rd. Sinureja (
keturunan Dalem Wirabangsa Cikelepu Limbangan ). Dari Rd.Wargadireja putra Rd.
Sinureja, Ny. Rd. Idah melahirkan 2 orang putra, yaitu :
1. Kyai Rd. Nur Muhammad
2. Rd. Ali Hanafiah.
Seuweu siwinya akan dijelaskan di belakang.
IV. RD. MOH. YUSUF
Rd. Moh. Yusuf putra Kyai Rd. Moh. Ashim
mempunyai tiga putra, yaitu :
a. Kyai Rd. Muh. Bunyamin.
Rd. Muh. Bunyamin menikah dengan putra sulung
Kyai Rd. Nur Muhammad, yaitu Nyi Rd.Murtijiyah dan melahirkan seorang
putra, yaitu :
· Kyai Rd. Romli ( Mama
Ciloa Limbangan ).
Rd. Moh. Romli dari Ny. Rd. St. Fatimah,
dikarunai 8 orang putra, diantaranya :
1. Rd. Ahmad Kosasih
Putranya adalah :
1). Rd. Cecep Yusuf
2). Rd. Aceng Romli
2. Rd. Zenal Muttaqin
Mempunyai 7 orang putra, diantaranya :
(1). Rd. Ahmad Nahrowi
(2). Rd. Hasanudin
(3). Rd. Husenudin
3. Rd. Abed Zenal Abidin
Mempunyai 7 orang putra, diantaranya :
1). Rd. Muhyiddin
Menurut KH Rd. Ibrahim Iskandar ( PP Burujul Limbangan ), Rd.Muhyiddin adalah
penyusun buku “ Wawacan Nur Muhammad Cikekepu “ dan sekarang aktif di DKM
Mesjid Agung Bandung.
2). Rd. Ombi Romli
4. Ny. Rd. Baitul Fatmawati
Beliau dikaruniai 2 orang putra, yaitu :
1).
Aceng Holil Aonillah
Beliau adalah
sesepuh PP Ciloa Limbangan. Salah seorang menantunya ( KH Rd. Agus Soleh
) sekarang memimpin PP Ciloa Limbangan.
2). Ny. Rd. Ai Toto St.Rohmah
Isteri KH Rd. E. Muhyiddin putra KH Rd. Tajudin
( PP Pulosari LImbangan ).
5. Rd.Ashim
Rd. Muh. Ashim terkenal pula dengan sebutan Kyai Ene. Beliau adalah menantu KH
Rd.Moh. Sayuti ( Mama Cibunar ), dan dikarunai 3 orang putra, yaitu :
1). KH Rd.
Ibrahim Iskandar ( Cep Ii )
Sekarang ( 2009 ) beliau sebagai
sesepuh PP Burujul Limbangan. Salah seorang putranya ( Ny.
Rd.Eva Syarifah ) menjadi isteri dari Ceng Mustopa putra KH Amin Suhrowardi (
PP Assyatibiyah Tanjungpura hilir Kr.Pawitan – Bani Nuryayi ).
2). KH Rd.
Toto ( CepToto )
Sesepuh PP Sukamantri Sukabumi.
3). KH Rd.Didi (
Soreang Bandung )
b. Kyai Rd. Munaji
( ayah Rd.H. Ali Limbangan )
c. Nyimas Halimah
Nyimas Halimah adalah isteri KH Rd. Abdul Fatah putra KH Rd. Aonillah ( Mama
Serang Cibiuk ). Seuweu siwinya akan djelaskan di bawah.
V. KYAI RD.MOH. AONILLAH ( Mama Serang Cibiuk ).
Kyai Rd. Aonllah menikah dengan Ny. Rd. Syarifah Aisyah putra Syekh Maulana
Sayyid Daud ( Empang Bogor ) dan ( ? ). Dari keduanya, Kyai Rd. Aonillah
dikaruniai 4 orang putra, yaitu :
V1. KH. Rd. Abdul Fatah
( wafat 1878 M )
KH Rd. Abdul Fatah ( Pesantren Cibalandong )
dari Nyi Rd.St.Halimah putra KH Rd. Moh. Yusuf mempunyai, 6 putra, yaitu
:
1. Ny. Rd.Mas Enok ( wafat di Mekah )
2. Ny. Rd. Ubik
3. Nyi Rd. Enot
Nyi Rd. Enot mempunyai seorang putra, yaitu
KH.Rd. Jakaria. KH Rd.Jakaria menjadi sesepuh pesantren Situ Batu ( Cipareuan
Cibiuk ).
Akhirnya KH Rd.Jakaria menjadi menantu
KH Abdullah ( yang membedah Desa Cipareuan, yang sakarang termasuk Kec.
Cibiuk ). Dari Ny.Siti Julaeha putra KH Abdullah, KH Rd.Jakaria dikaruniai 8
orang putra,dintaranya :
1 ). Rd.
Masduki
2 ). Rd.Asep Jaenal Mutakin
3 ). Rd. Aceng Badrudin
4 ). Rd. Aceng Mamad
( sesepuh pesantren Situbatu Cipareuan
Cibiuk )
4. KH. Rd.
Achmad Mahalli
Berdasarkan riwayat yang diuraikan KH Rd.
Muh. Mahali putra KH. Achmad Mahali, dalam “Sajarah/Riwayat ringkesna pasantren
Sumur “ susunan beliau tanggal 1 Muharam 1381 H ( 14 Juni 1961 M ), bahwa
KH Rd. Acmad Mahali putra KH Rd. Abdul Fatah dilahirkan pada tahun 1866 M, di
Pesantren Cibalandong Desa Cibiuk Kec. Balubur Limbangan Kab. Bandung.
KH Rd. Achmad Mahali, pada tahun 1875 M
pertama kali belajar agama di pesantren Serang Cibiuk, pimpinan
kakek beliau sendiri ( KH Rd. Aonillah ). Dan kemudian
dillanjutkan ke beberapa pesantren lainnya sampai dengan tahun 1902 M (
usia 36 tahun – pen.).
Pada tahun 1903 M, KH Rd. Achmad Mahali menikah dengan Ny. Rd.Onoh Rohanah (
ibunya, Ny.Rd. Dewi Nursih putra Kyai Rd. Moh. Jamhari/ Eyang Cimalaka,
ayahnya adalah KH Moh. Aslah cicit Embah Nuryayi Suci Garut
).
KH Rd. Achmad Mahali bersama istri, tinggal bersama mertuanya di PP
Sindangkasih Cisaradan Karangpawitan Garut ) selama hampir 7 tahun ( 1903 –
1911 M ).
KH Rd. Achmad Mahalli pada tahun 1911 M
mendirikan Pondok Pesantren Sumursari ( Sukasono Sukawening ) di atas tanah
wakaf dari Rd.H. Yusuf putra Kyai Rd. Ali Hasan Munaram ( keturunan
Cinunuk/Limbangan/ Bani Nuryayi ).
Dari Ny. Rd.Hj. Ono Rohanah, KH. Rd. Ahmad
Mahali dikaruniai 8 orang putra diantaranya :
1 ). KH Rd.
Muh. Mahali
KHRd.Muh.Mahali dilahirkan di Sumursari pada
tanggal 17 Agustus 1911 M.
Dan setelah KH Rd.Achmad Mahalli wafat ( 20
Muharam 1367H/ 1947 ), sebagai sesepuh Pondok Pesantren Sumursari
dilanjutkan oleh putranya ( KH Rd. Muhammad Mahalli ).
KH Rd. Muh.Mahali menikah dengan Ny. Rd. St.Jubaedah putra KH Rd. Sarbini
dikarunia seorang putra, yaitu KH Rd.Dadang. Abd. Rajak
Setelah KH Rd. Muh.Mahali wafat, KH Rd.Dadang Abd. Rajak yang meneruskannya
sebagar sesepuh PP Sumursari.
Dan sekarang pesantren ini dikelola
oleh Yayasan Pondok Pesantren Annajat dibawah pimpinan Rd. Ali Saad
Aliyudin putra sulung KH Rd. Dadang Abd.Rajak.
Lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan Yayasan adalah Pondok Pesantren, MD,
RA, MI,MTs dan MA.
2 ). KH Rd. Didi Mahmudi
KH Rd. Didi Mahmudi, karena menikah dengan
Nyimas St. Fatimah putra dari KH Umar Basri ( cicit KH Muh. Arif putra kedua
Sembah Nuryayi Suci – Pen. ), beliau bertempat tinggal dan menetap di Fauzan
tonggoh, dan menjadi sesepuh Pondok Pesantren Fauzan Tonggoh Kec. Sukaresmi.
Setelah KH Rd. Didi Mahmudi wafat, seterusnya PP Fauzan Tonggoh diasuh oleh
Nyimas St. Fatimah dan putra-putranya.
Pada bulan Oktober 2008, penyusun
datang ke Fauzan Tonggoh dan bersilaturami kepada Nyimas St. Fatimah. Dari KH
Rd. Didi Mahmudi, Nyimas St. Fatimah melahirkan 8 orang putra.,
diantaranya :
( 1 ). Rd. Ahmad
( 2 ). Rd.Mu’man
(
3 ). Rd. H.Jajam Jamhari
Setelah Ny. Rd. Onoh Rohanah wafat, KH Acmad
Mahali menikah lagi dengan saudara sepupunya Ny. Hj. Rd. St. Rokayah putra KH
Rd. Abdurahman, dan dikarunia putra, diantaranya :
1 ). Rd. Moh.Zakaria
2 ). Rd. Moh. Sobari
3 ). Rd. Moh. Yahya
5. KH. Rd. Jalaludin Sayuti
KH Rd. Jalaludin Sayuti menikah
dengan Ny. Rd.oneng putra Rd. .Moh. Anwar,dan dikaruna 9 orang putra,
diantaranya :
1 ). Kyai Rd. Masduki
2 ). Rd. Mas Toha ( Canjur)
3 ). KH Rd.Junaedi ( Cibuyut Lewo )
4 ). Rd. Abdullah ( Cianjur )
6. KH Rd. Gojali
KH Rd. Gojali menikah dengan Ny. Rd. Nafisah dan
dikaruniai 5 orang putra, dantaranya :
· Rd. Muh. Husen
V2. KH Rd. Abdurahman (
Pak Onggoh/ Mama Kulon )
KH Rd. Abdurahman, menjadi sesepuh di
Pesantren Cikelepu Kulon, oleh karenanya terkenal dengan sebutan Mama
Kulon. KH Rd. Abdurahman beristrikan Nyi Rd. Siti Mir’at ( terkenal
dengan sebutan Nyai Menak/Nyai Kulon) putra bungsu Kyai Rd. Nur Muhammad
( Cikelepu Limbangan ).
Dari 13 orang putra KH Rd. Abdurahman, 4 diantaranya adalah :
1. Kyai seperti KH Rd.
Moh.Sobar ( Pasantren Cibiuk Tengah
)
2. Rd.H .Muh. Bakri ( wafat di
Mekah )
3. Ny.Rd. St.Rafi’ah
Isteri KH Rd. Sarbini
putra KH. Rd. Zarkasih Hasan Maolani (Mama Wetan ).
4. KH Rd. Ahmad Masduki
Suami Ny. Rd. Euis Umu
Kulsum putra KH. Rd. Zarkasih Hasan Maolani (Mama Wetan ). Dari Ny. Rd.Euis Umu
Kulsum , KH Rd.Ahmad Masduki dikaruniai 8 orang putra, diantaranya :
1 ). Rd. Umar
Hasanudin
2 ). Ny.Hj. Rd.St. Syarifah Syu’batul Alam
3 ). Rd. Abdurrahman Masduki dll
5. KH Rd. Muh. Mubarak
Suami Ny. Rd. St. Hulaedah
putra KH. Rd. Mahfudz ( Mama Wates ). Dari Ny. Rd. St.Hulaedah putra KH
Rd. Mahfudz, KH Rd. Mu. Mubarak, dikaruniai 10 orang putra, diantaranya , yaitu
:
1 ). H. Rd.
Tete Ruhiyat
2 ). KH Rd. Atung Aonillah
3 ). Rd. Endin Abdul Kodir dll.
6. KH Rd. Ahmad Qusyaeri
Menikah dengan Ny.Rd.
St.Aidah putra KH.Muh.Amin ( Mama Panguyangan Cihanyir ). Putra-putranya
antara lain :
1 ). Rd.Cecep
2 ). Rd.Nandang
7. KH Rd. Muh. Thoha (Selaawi ).
8. Ny. Rd. Siti Rahmah
Menikah dengan saudara
sepupunya KH Rd. A.Rosyad Ghazali putra Rd. Moh. Syarif ( Lihat di bawah ).
V3. KH Rd. Moh.Abdul Rojak
Mempunyai 3 orang putra, yatu :
1. Rd.Mansur
2. Rd.Cecep (Cjeler )
3. Rd.Kodir.
V4.KH Rd. Moh. Syarif
KH Rd. Moh. Syarif adalah saudara seayah lain ibu dengan KH Rd. Moh.
Abdul Rojak. Beliau menjadi sesepuh PP Serang Cibiuk dan menurunkan 6 orang
putra, dua diantaranya adalah
1. KH.
Rd. A. Rosyad Ghazali ( Mas Amuni )
KH Rd. A. Rosyad Ghazali yang menikah dengan saudara sepupunya (Nyi Rd. St.
Rahmah putra KH Rd. Abdurahman ) berputra 4 orang, dua diantaranya yatu :
1 ). KH
Rd. Totoh Abdul Fatah Ghazali
Sosok KH Rd. Totoh Abdul Fatah Ghazali
tidak asing bagi masyarakat Bandung khususnya, umumnya masyarakat umat Islam di
tatar Sunda. Beliau adalah salah seorang mubaligh terkenal dari kota Bandung
teureuh Cibiuk/ Limbangan.
2 ). KH Rd.
Bobon Anwar Ghazali dll
2. KH Rd. Abdul Gani ( Mas Gani ).
KH Rd. Abdul Ghani ( Mas Gani ) menikah dengan Nyi Rd. Siti Janah putra
Rd. Abdul Hanan ( Kaum Wanaraja ). Mertua isteri KH Rd. Abdul Gani (Ny.
Rd.Diyut Marliyah ) adalah putra Kyai Rd.Moh.Jamhari ( Eyang Cimalaka). ( Lihat
Bagian 5 )
Dari Nyi Rd.Siti Janah, KRd. Abdul Gani
mempunyai 7 orang putra, diantaranya adalah :
1 ). Rd.
H. Basah
2 ). Rd.
Ahmad dll
Rd. H. Basah dan saudaranya meneruskan dalam pengelolaan
Pondok Pesantren Serang Cibiuk.
Penyusun mengenal Rd. Ahmad putra KH Rd.Abdul
Gani, ketika penyusun masih sekolah di SMAN Garut ( antara 1964 – 1967 ).
Rd. Ahmad dahulu juga sering bersilaturahmi kepada ayah penulis ( KH Rd. Ma’mun
Abdul Gani ), karena kebetulan kakak beliau ( Ny Rd. Nunung yang saat itu
sebagai guru SMP Negeri di Garut ) adalah tetangga dekat kami di belakang
Kaum Wanaraja.
Ketika dalam perjalanan “ nyukcruk lembur
mapay padesan “, beberapa bulan yang lalu, penyusun sempat bersilaturahmi
dengan Rd. H. Basah dan Rd. Ahmad beliau di Serang Cibiuk. Dari
beliau penyusun mendapat selintas riwayat atau sejarah dari Kyai
Rd. Jafar Sidik ( Eyang Embah Wali Cibiuk ), Kyai Rd. Ashim, Kyai Rd.
Aonillah dan sesepuh tempo dulu Limbangan termasuk Kyai Rd.Moh.
Jamhari ( Eyang Cimalaka Wanaraja ) cucu Kyai Rd. Salinggih.
Seuweu siwi Kyai Rd. Aonillah ( Mama Serang ) dapat dilihat dalam Buku Rundayan
Silsilah Bagian 8.
J. PRABU BRAJADILEWA
Berdasarkan naskah dari Malangbong, bahwa Prabu Brajadilewa adalah saudaranya
Prabu Hande Limansenjaya ( Galeuh Pakuan Limbangan ). Prabu Brajadilewa
atau Sunan Brajasakti makamnya ada di daerah Cimuncang Kec. Malangbong.
Pabu Brajadilewa atau Sunan Brajasakti mempunyai putra Syekh Wali
Janullah atau Sunan Sakti Barang ( makamnya di Lebakwangi Cimuncang
Malangbong ). Beliau dikaruniai 2 orang putra,yaitu :
a. Ny.Rd. Aminah
Dari suaminya ( ? ), Nyi Rd. Aminah menurunkan seorang
putra, yang benama : Kyai Rd. Muqri.
Keturunan Kyai Rd.Muqri adalah Ny. Rd. St. Aisyah yang
nantinya menjadi menantu Syekh Komarudin ( asal Mataram ).
Ny. Rd. St. Aisyah dengan Kyai Rd. Muh. Syarif putra
Syekh Komarudin melahirkan 3 orang putra, yatu :
1. Kyai Rd. Muh. Sarbini
Mempunyai 2 putra,
yatu :
1 ). Kyai Rd. Moh. Ismail
2 ). Kyai Rd.Moh.Imam
2. Kyai Rd. Muh.Nawari
Beliau adalah istri Ny. Rd.
Murgani putra Rd. Muh. Soleh (Panghulu Malangbong . Salah satu keturunannya
adalah :
· KH Rd. Kadar Solihat
Beliau adalah sesepuh di daerah di Cimuncang
Kutanagara Malangbong dan beliau adalah mantan anggota DPRD Kab. Garut
3. Kyai Rd. Muh. Syafe’i
Beliau adalah istri Ny. Rd. Muqoronah putra Rd. Muh.
Soleh (Panghulu Malangbong ). Salah satu keturunannya adalah :
· KH Rd.
Muchlas
Beliau adalah sesepuh di Cirangkong ( Citeras Malangbong ).
Sekarang beliau sebagai Kepala MTs. Al Hidayah Kp. Citeras Kec. Malangbong
dan Ketua Majelis Ulama Kec.Malangbong. Beliau adalah sahabat penulis, sejak
tahun 1966.
Lihat uraianya di belakang ( Rd.Surayuda
).
b. Ny. Rd.Ayu Mangkubumi
Menurut Sajarah Silsilah Asal Usul Limbangan, bahwa
Ny. Rd.Ayu Mangkubumi putra Sunan Sakti Barang adalah istri Dalem Wirabangsa
putra Dalem Tumenggung Jiwamerta ( Sunan Demang – Limbangan ). Seuweu
siwinya akan dijelaskan di bawah.
=================

namun menurut sumber dari http://www.nu.or.id bahwa Pada tahun
2001 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melakukan safari dakwah ke Pesantren
Qiroatus Sab'ah Kudang, Limbangan, Garut, Jawa Barat. Dalam kesempatan itu,
salah satu poin yang disampaikan oleh Gus Dur di hadapan para ulama, umaro dan
masyarakat Garut adalah bahwa pusatnya Indonesia adalah pulau Jawa, pusatnya
pulau Jawa adalah Jawa Barat, pusatnya Jawa Barat adalah Garut dan pusatnya
Garut adalah Limbangan.
"Sejak
saat itu, saya terdorong untuk menelisik sejarah Limbangan. Dari delapan sumber
sejarah Limbangan yang saya dapatkan, hanya tiga sumber saja yang bisa saya
katakan sahih sebab lima sumber sisanya itu irasional dan mendekati mustahil,
bahkan ada indikasi itu adalah sejarah yang ditulis oleh kolonial," tambah
putera sulung Rais PCNU Garut itu
Pertama, kata
dia, ada seorang dosen peneliti sejarah yang menemukan secarik tulisan lapuk di
museum perpustakaan Universitas Leiden yang isinya menyatakan bahwa pusat
kerajaan Nusantara yang membawahi 77 kerajaan di Nusantara itu ada di
Limbangan.
Kedua, ada
keturunan dari kerajaan Samudera Pasai yang berkunjung ke Garut dan menyatakan
bahwa di Limbangan ada sebuah kerajaan besar yang menguasai kerajaan-kerajaan
Nusantara.
Ketiga, ada
sebuah sumber yang mengatakan bahwa para dai yang menyebarkan agama Islam di
Limbangan adalah langsung datang dari Arab.
Ia
melanjutkan, Kerajaan di Limbangan tersebut diduga kuat adalah Kerajaan Kerta
Rahayu yang dipimpin oleh seorang ulama sekaligus umaro yang bernama Sunan
Rumenggong. Kata Rumenggong sendiri merupakan ucapan lidah sunda untuk menyebut
gelar tertinggi sebuah kerajaan, Rama Hyang Agung.
Selain itu,
di daerah Limbangan juga ada sebuah bukit luas yang dekat dengan sumber air dan
seolah pernah dihuni oleh masyarakat banyak dan tempat tersebut diduga bekas
kerajaan Kerta Rahayu.
"Sebelum
masuk ke tempat tersebut kita akan melewati jalan yang di sampingnya ada
jajaran pohon, mana mungkin ada orang iseng menanam pohon tersebut sampai
begitu banyak dan juga begitu rapi," tandasnya.
Namun
demikian, Imam sendiri belum berani menyimpulkan bahwa pernyataan Gus Dur dan
sejarah Limbangan tersebut saling berkaitan. Hal ini dikarenakan ada
keterbatasan dalam sumber sejarah dan sumber daya manusia serta yang dianggap
cukup berat adalah jika sejarah tersebut dipublikasikan tentu saja akan ditentang
oleh para sejarawan yang sudah berpegang pada sejarah mainstream. (Aiz
Luthfi/Abdullah Alawi).
Itulah beberapa
sejarah dan silsilah kabupaten limbangan dahulu yang kini mulai tertinggalkan ,
semoga dengan adanya artikel ini kita bisa melestarikan budaya ,menghargai
sejarah, mari kita bangun kembali limbangan menjadi daerah yang istimewa bukan
untuk jadi kerajaan tapi di angkat menjadi daerah istimewa , disamping banyak
para ulama di daerah limbangan , budaya , sumber daya alam , wisata dan keberagaman
lainnya .
Terimakasih semoga bermanfaat.
terimakasih banyak untuk ..
limbangangarut.com , wikipedia, http://www.nu.or.id
Post a Comment